Merancang Novel atau Novelet


Berikut dipaparkan beberapa teknik perancangan menulis cerita menurut Harris Effendi Thahhar (1999). Teknik-teknik tersebut dapat pula kita aplikasikan dalam perancangan penulisan novel.

Menjadikan Cerita yang Unik dan Mengesankan

Salah satu teknik menulis novel dan cerita lainnya adalah merekayasa rangkaian cerita menjadi unik, baru, dan tentu saja tidak ada duanya. Memang betul, tidak ada yang baru lagi di atas dunia ini. Akan tetapi, bukankah senantiasa ada perbedaan?

Hal tersebut terlihat dari tema yang digunakan. Sejak dulu hingga kini orang banyak menulis kisah tentang cinta. Namun, selalu ada saja hal menarik dari dalamnya untuk dibaca.

Dari satu objek yang sama, pasti ada sudut sudut unik yang dapat kita tulis. Kita dapat membumbui kisah-kisah itu dengan fantasi dan pengalaman pribadi kita yang tentunya tidak akan sama dengan pengalaman yang dimiliki orang lain.

Membuat Paragraf Pertama yang Mengesankan

Selain judul, paragraf pertama adalah etalase sebuah cerita. Paragraf pertama merupakan kunci pembuka. Khusus untuk cerpen, karena merupakan karangan pendek, mestinya paragraf pertama langsung masuk ke pokok persoalan agar tidak menghadirkan kebosanan dan rasa apatis bagi pembacanya Begitu pula dengan novel paragraf pertama yang mengesankan akan menimbulkan ketertarikan pembaca.

Mempertimbangkan Pembaca dengan Baik

Pembaca adalah konsumen, sedangkan pengarang adalah produsen. Produsen harus senantiasa mempertimbangkan mutu produknya agar bisa dipasarkan. Apalagi mengingat persaingan pasar yang semakin tajam, Pembaca sebagai konsumen, jelas memerlukan bacaan yang baru, segar, unik, menarik, dan menyentuh rasa kemanusiawian.

Apakah tema cinta masih laku dijual? Mengapa tidak? Yang penting adalah cara menceritakannya. Untuk mendapatkan hasil yang baik, perlu dipelajari teknik-teknik, kiat-kiat atau trik-trik menyiasati alur agar menarik dan tidak mudah ditebak.

Menggali Suasana

Melukiskan suasana suatu latar kadang-kadang memerlukan detail yang apik dan kreatif. Sebab, penggambaran suasana yang biasa-biasa yang sudah dikenal umum, tidak akan begitu menarik bagi pembaca. Jika pengarang melukiskan keadaan Kota Jakarta, misalnya, gedung-jedung yang tinggi, kesemerawutan lalu lintas, dan keramaian kotanya, berarti dalam penggambaran itu tidak ada yang baru. Akan tetapi, ketika seorang pengarang sekilas melukiskan keadaan Kota Jakarta dengan mengaitkannya dengan suasana hati tokoh ceritanya, maka penggambaran itu menjadi begitu menyentuh.

Perhatikan contoh berikut!

Lampu-lampu  yang  berkilau  terasa  menusuk-nusuk  matanya,  sedangkan

kebisingan kota menyayat-nyayat hatinya. Samar-samar dia sadari bahwa dia

telah kehilangan adiknya: Paijo tercinta!

Pak Pong yang malang menatap kota dengan dendam di dalam hati. Jakarta, kesibukannya, Bina Graha, gedung gedung itu

(Jakarta, Totilawati T)

Menggunakan Kalimat Efektif

Kalimat-kalimat dalam sebuah cerita adalah kalimat berkategori kalimat efektif. Kalimat efektif adalah kalimat yang berdaya guna yang langsung memberikan kesan kepada pembaca, Kalimat demi kalimat, baik dalam dialog maupun narasi, disusun seefektif mungkin sehingga pembaca merasa mudah untuk menangkap maksud dari setiap bagian cerita itu hingga tamat. Di samping terampil menggunakan kalimat efektif, kita dituntut pula memiliki kekayaan kosakata dan gaya bahasa agar cerita itu mengalir dengan lancar dan tidak membosankan.

Menggerakkan Tokoh (Karakter)

Penokohan merupakan salah satu unsur novel, di samping tema, alur, latar, sudut pandang, dan amanat Penokohan adalah cara pengarang menggambarkan dan mengembangkan karakter tokoh dalam cerita.

Untuk menggambarkan sifat-sifat tokoh, pengarang dapat menggunakan teknik sebagai berikut.

1)Karakter tokoh diceritakan secara langsung oleh pengarang, Misalnya, dengan disebutkan langsung dan pengarang bahwa tokoh itu dermawan, baik hati, dermawan, rakus, sombong.

2)Penggambaran fisik dan perilaku tokoh, pengarang misalnya menyebutkan bahwa tubuh tokoh itu rupawan, berkulit bersih, atau kata-katanya santun,t ingkah lakunya terpelajar.

3)Penggambaran lingkungan kehidupan tokoh, pengarang misalnya menyebutkan bahwa tokoh itu tinggal di komplek perumahan elit bergaul dengan anak pejabat, atau biasa mondar-mandir di terminal angkutan kota.

4)Penggambaran tata kebahasaan tokoh, pengarang misalnya mengutip perkataan tokoh yang kata-katanya banyak menggunakan bahasa gaul atau bahasa asing.

5)Pengungkapan jalan pikiran tokoh, misalnya pengarang menyebutkan pikiran pikiran tokoh dalam memecahkan sebuah masalah yang begitu cerdas dan brilian.

6)Penggambaran oleh tokoh lain, misalnya pengarang menggambarkan sifat dari tokoh Lala melalui pembicaraan tokoh Doni atau tokoh Metha.


Tidak ada komentar untuk "Merancang Novel atau Novelet"